busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Apa Anda Suka Facebook GSF Online

SP Facebook

Update Berita

;"kapan panitia C akan turun menertipkan perkebunan hak guna usaha perusahaan sari inti rakyat yang terindikasi terlantar";

Latar belakang Masalah (Pendahuluan) Bab I

GSF-Aceh. ”Pendididikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik  secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak  mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. 

 

Latar belakang Masalah (Pendahuluan) Bab I
Oleh Cut Arifah Toniadi, S.Pd.I
Meulaboh, 12 Agustus 2012
GSF-Aceh. ”Pendididikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik  secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak  mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah empat kali amandemen Undang-Undang Dasar yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, hasil amandemen ke empat, pasal 31  ayat (1) berbunyi: ’’Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan****)’’ Secara khusus ditegaskan pada pasal 28 C ayat (1) yang berbunyi: ’’Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,  berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.**)’’ Undang undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) Bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 1 berbunyi:
”Pendididikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik  secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak  mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan  2005, setiap individu memiliki potensi yang harus dikembangkan. Maka proses pembelajaran yang relevan ialah yang mampu menggali potensi anak didik agar selalu kreatif dan berkembang. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 2 tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama Islam dan bahasa Arab di Madrasah. Dalam lampiran BAB VII tentang Standar kompetensi lulusan mata pelajaran agama Islam dan bahasa Arab Madrasah Tsanawiyah khususnya mata pelajaran Aqidah Akhlak yang membahas tentang:     
Meningkatkan pemahaman dan keyakinan terhadap rukun iman mulai dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, sampai iman kepada Qada dan Qadar yang dibuktikan dengan dalil-dalil naqli dan aqli serta pemahaman dan penghayatan terhadap al-asma' al-husna dengan menunjukkan ciri-ciri/tanda-tanda perilaku seseorang dalam realitas kehidupan individu dan sosial serta pengamalan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari

Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik, pembaharuan  metode pembelajaran harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,  salah satunya dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). ­­­­­­Pendekatan CTL harus dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui pendekatan CTL, siswa diharapkan dapat membangun pemahaman sendiri dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu (asimilasi). Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman yang bermakna (akomodasi). Siswa diharapkan mampu mempraktekkan pengetahuan/pengalaman yang telah diperoleh dalam konteks kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Karena Contextual Teaching and Learning (CTL)  memiliki potensi untuk membuat para siswa berminat belajar dan seperti yang dikatakan Whitehead, menyatakan ”tidak akan ada perkembangan mental tanpa adanya minat’’. Pendekatan (CTL) memiliki tujuh komponen utama antara lain sebagai berikut:
1.    Konstruktivisme
·    Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal.
·    Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
2. Inquiry (menemukan)
·    Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
·    Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis.
3. Questioning (bertanya)
·    Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
·    Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry.
4. Learning Community (masyarakat belajar)
·    Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
·    Bekerjasama dengan orang lain lebih baik dari pada belajar sendiri.
·    Tukar pengalaman.
·    Berbagi ide.
5. Modeling (pemodelan)
•    Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
•    Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya.
6. Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya)
•    Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
•    Penilaian produk (kinerja).
•    Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
7. Reflection (refleksi)
·    Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari.
·    Mencatat apa yang telah dipelajari.
·    Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok.

Selanjutnya Nurhadi dalam bukunya mengemukakan beberapa dari karakteristik pembelajaran berbasis CTL antara lain adalah:
•    Kerjasama;
•    Saling menunjang;
•    Menyenangkan;
•    Tidak membosankan;
•    Belajar dengan bergairah;
•    Pembelajaran terintegrasi;
•    Menggunakan berbagai sumber;
•    Siswa aktif;
•    Sharing/saling berbagi dengan teman;
•    Siswa kritis, guru kreatif;
•    Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel dan humor;
•    Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan Standar Kelulusan (SKL);

Dalam studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 2 Januari 2009   di MTsS Babussalam  guru - guru selama ini masih menggunakan pendekatan konvesional  (Non-CTL)  salah satunya seperti metode ceramah. Memang susah meninggalkan budaya mencatat buku karena telah lazim   dilakukan puluhan tahun oleh tenaga pendidik, sehingga faktor ini menjadi masalah yang sangat krusial dalam pendekatan pembelajaran.
Bila tujuan yang diinginkan belum tercapai maka cenderung untuk meninjau kembali alat/media (pendekatan) yang digunakan dalam proses untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya dengan meninjau pendekatan yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar karena keberadaan pendekatan disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Setiap pendekatan dan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan terutama metode ceramah, adapun kelebihan dan kekurangan metode ceramah meliputi:
Kekurangan metode ceramah:
1.    Interaksi cenderung bersifat centered (berpusat pada guru).
2.    Siswa kurang menangkap apa yang dimaksudkan oleh guru, jika ceramah berisi istilah-istilah yang kurang/tidak dimengerti oleh siswa dan akhirnya mengarah kepada verbalisme.
3.    Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang, karena guru kurang memperhatikan faktor-faktor psikologis siswa, sehingga bahan yang dijelaskan menjadi kabur.

Kelebihan metode ceramah:
1.    Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus secara komfrehensif.
2.    Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama, dengan waktu yang singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara bersamaan.
3.    Fleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan, jika bahan banyak sedangkan waktu terbatas maka dapat dibicarakan pokok-pokok permasalahannya saja, sedangkan bila waktu masih panjang, dapat dijelaskan lebih mendetail.

Berdasarkan realita di atas CTL solusi dalam proses peningkatan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak,  peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ”Pengaruh Penggunaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Meningkatkan Nilai Mata Pelajaran Aqidah Akhlak pada Siswa Kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh Tahun Pembelajaran 2009/2010”.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas secara umum masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pendekatan CTL untuk meningkatkan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh? Masalah umum dapat dirincikan menjadi submasalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana  perbedaan prestasi belajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak antara yang menggunakan pendekatan CTL dengan yang menggunakan pendekatan konvensional (Non-CTL) pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?
2.    Bagaimana langkah - langkah penerapan pendekatan CTL dalam meningkatkan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?
3.    Bagaimana  pengaruh pendekatan CTL dalam meningkatkan nilai prestasi belajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah ditetapkan, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi (menjelaskan) tentang pendekatan CTL untuk meningkatkan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak  pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh. Tujuan penelitian secara rinci dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.     Untuk mengetahui perbedaan pada prestasi belajar mata pelajaran Aqidah Akhlak  antara yang menggunakan pendekatan CTL dengan yang menggunakan pendekatan konvensional (Non-CTL)  pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?
2.    Untuk mengetahui pendekatan CTL dalam meningkatkan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak  pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?
3.    Untuk mengetahui pengaruh pendekatan CTL dalam meningkatkan nilai terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak  pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?

D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis berasal dari dua penggalan kata, “hypo” yang artinya “di bawah” dan “Thesa” yang artinya “kebenaran”. Dan secara istilah hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
 Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat memberikan hipotesis sebagai berikut:
1.    Hipotesis Kerja (Ha):     Ada pengaruh pendekatan CTL dalam meningkatkan nilai prestasi belajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam Meulaboh?
2.   Hipotesis Nihil (H0):     Tidak ada  pengaruh pendekatan CTL dalam meningkatkan nilai  prestasi belajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII A dan VII B MTsS Babussalam Meulaboh?

E. Manfaat Penelitian
Hasil pembahasan ini diharapkan dapat memberikan deskripsi secara mendalam dan menyeluruh tentang pendekatan CTL untuk meningkatkan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII MTsS Babussalam Meulaboh. Untuk itu diharapkan hasil pembahasan mampu memberikan manfaat secara teoritis  dan praktis (mudah).
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya  tentang penerapan pendekatan CTL untuk meningkatkan nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi (sumbangan) yang berarti bagi:
1)    Peneliti
2)     Para dosen  di STAI Yapentu Jopah
3)    Guru,
4)    Siswa
5)    Dan orang tua siswa.
Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan, untuk mengembangkan pengetahuan tentang pendekatan CTL sebagai salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan nilai pembelajaran siswa khususnya pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Bagi para dosen di STAI Yapentu Jopah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam menyusun rancangan pengajaran, memperluas pendekatan dalam mengajar serta menambah bahan pengajaran, sebagai tolak ukur interdisipliner (berdisiplin) keilmuan.
Bagi Guru, hasil penelitian ini  menjadi bahan pijakan dan landasan dalam mengajar serta mendidik siswa dengan menggunakan pendekatan CTL dan menjadi bahan konsep untuk melakukan perbandingan antara konsep pendekatan CTL dengan pendekatan konvensional (Non-CTL). Bagi siswa, melalui pendekatan CTL diharapkan belajar melalui “mengalami”  bukan  “menghafal”. Bagi orang tua siswa, dapat menambah kontribusi pemikiran tentang perannya sebagai salah satu komponen yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pada setiap siswa di setiap jenjang dan satuan pendidikan.

F.  Definisi Operasional
    Istilah–istilah pokok yang digunakan dalam penelitian diberikan batasan sebagai berikut:
1.    Pengaruh
Pengaruh adalah “daya yang ada atau timbul dari sesuatu, orang, benda dan sebagainya yang berkuasa atau yang berkekuatan gaib dan sebagainya” .
2.    Pendekatan  (CTL).
Pendekatan (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengatahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
3.    Meningkatkan
Meningkatkan berasal dari kata dasar adalah “tingkat”. Tingkat berarti lapis dari sesuatu yang bersusun. sedangkan kata meningkatkan adalah usaha, kegiatan dan sebagainya.  Jadi, meningkatkan diartikan sebagai usaha guru dalam meningkatkan minat dan pemahaman siswa dalam proses belajar mengajar dari pendekatan konvensional (Non-CTL) ke  pendekatan CTL.
4.    Nilai Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
Nilai mata pelajaran Aqidah Akhlak dalam penelitian ini adalah bagaimana cara guru melaksanakan penilaian terhadap mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan pendekatan (CTL), untuk melihat kemampuan dan kemajuan belajar siswa selama proses pembelajaran itu terjadi.
5.  Siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam
Siswa kelas VII-A dan VII-B MTsS Babussalam yang peneliti gunakan sebagai tempat penelitian, dalam penelitian ini peneliti akan meneliti bagaimana cara siswa dalam belajar mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan pendekatan CTL. Sedangkan untuk memperoleh keseragaman dalam tehnik penulisan ini berpedoman pada buku pedoman penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang diterbitkan oleh IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh tahun 2004. Dan buku panduan menulis skripsi bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh tahun 2010.

 





Display News

Tamu GSF

Kami memiliki 29 Tamu online

GSF Mail

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday77
mod_vvisit_counterYesterday1374
mod_vvisit_counterThis week77
mod_vvisit_counterLast week9189
mod_vvisit_counterThis month32879
mod_vvisit_counterLast month39468
mod_vvisit_counterAll days1504302

Online (20 minutes ago): 26
Your IP: 54.80.113.118
,
Today: Okt 26, 2014
Translate Web Ke Bahasa :